BELAJAR DARI ALI DAN ZAHRA: NOBAR "CHILDREN OF HEAVEN" HARU DAN TAWA WARNAI AGENDA MATAMUDA & FORTASI MA MUHAMMADIYAH LIMPUNG
BATANG โ Ruang bioskop Studio 1 Aneka Jaya Batang dipenuhi gelombang emosi yang silih berganti pada Kamis, 16 Juli 2026. Alih-alih menghabiskan hari di lingkungan madrasah, puluhan peserta Masa Ta'aruf Murid Madrasah (MATAMUDA) dan Forum Ta'aruf Siswa (FORTASI) MA Muhammadiyah Limpung sengaja diboyong untuk mengikuti agenda nonton bareng (nobar) film adaptasi terbaru Indonesia, "Children of Heaven". Agenda menyegarkan ini sukses memberi warna baru di tengah rangkaian orientasi siswa baru dengan kesan yang sangat mendalam.
Sejak lampu studio mulai dipadamkan, atmosfer di dalam ruangan langsung tersedot masuk ke dalam alur cerita perjuangan kakak-beradik, Ali dan Zahra, yang harus bergantian memakai sepasang sepatu usang untuk sekolah dengan latar kultur lokal yang begitu dekat dengan keseharian. Pilihan film yang sarat akan pesan moral ini berhasil mengaduk-aduk perasaan para siswa baru. Ketegangan begitu terasa di dalam studio saat adegan Ali harus berlari kencang demi mengejar waktu persekolahan agar tidak terlambat.
Meski menyajikan realita kehidupan yang berat, film ini tidak sepenuhnya berjalan kaku. Gelak tawa renyah sesekali pecah di sudut-sudut bangku penonton saat tingkah polos kedua tokoh anak-anak tersebut memicu kelucuan di layar lebar. Namun, menjelang paruh akhir film, suasana studio berangsur-angsur menjadi sunyi dan berubah haru. Tidak sedikit dari para peserta yang tampak berkaca-kaca, tersentuh oleh besarnya rasa tanggung jawab, kejujuran, dan rasa sayang yang ditunjukkan oleh tokoh Ali kepada adiknya di tengah keterbatasan ekonomi keluarga.
Dari barisan kursi penonton, para siswa baru menikmati setiap jengkal sinema ini dengan sangat tertib. Pandangan mereka terkunci sepenuhnya pada layar perak tanpa ada gangguan gawai yang menyala. Guna mengikat makna dari cerita yang baru saja disaksikan, pihak madrasah menyisipkan sesi refleksi singkat di dalam studio selepas film berakhir. Kegiatan ini menjadi ruang bagi para siswa untuk meresapi nilai-nilai kesederhanaan, kegigihan, dan rasa syukur yang bisa mereka bawa pulang ke rumah.
"Filmnya benar-benar bagus dan menguras emosi. Kadang bikin tertawa, tapi banyak juga bagian yang bikin dada terasa sesak dan sedih. Kita jadi diajarkan untuk lebih banyak bersyukur dengan apa yang kita punya sekarang dan tidak mudah mengeluh saat menghadapi kesulitan," ungkap salah satu siswa baru dengan suara yang sedikit serak setelah menahan haru.
Melalui kegiatan nonton bareng di luar lingkungan sekolah ini, MA Muhammadiyah Limpung berhasil membuktikan bahwa proses edukasi karakter tidak selamanya harus bersumber dari buku teks di dalam ruangan. Mengambil pelajaran hidup dari sepasang sepatu usang milik Ali dan Zahra menjadi sebuah cara yang sangat hangat, adaptif, dan menyenangkan dalam membentuk mentalitas generasi muda yang tangguh, peka, serta penuh rasa syukur dalam mengikuti rangkaian kegiatan MATAMUDA & FORTASI ke depan.
Artikel Terkait
MENYALAKAN MIMPI TEKNOLOGI DARI MADRASAH: KISAH RAHADIAN CHANDRA MEMUKAU SISWA BARU MA MUHAMMADIYAH LIMPUNG
EDUKASI KESEHATAN DAN EKOTEOLOGI: dr. DINI ATIKA AZMI AJAK PESERTA MATAMUDA & FORTASI MA MUHAMMADIYAH LIMPUNG PEDULI SESAMA DAN ALAM